
- 2026-08-01 10:25:03
Bacaan : Galatia 1:11-24
Dalam rubrik "Malu Bukan Tabu" pada majalah sekolah yang saya menjadi editornya dahulu, siswa-siswi bisa secara anonim berbagi pengalaman mereka yang memalukan. Kami tersenyum, tertawa, hingga tercengang karenanya.
Dalam bagian ini, Paulus melanjutkan membela kerasulannya dan asal-usul Injil yang ia beritakan kepada jemaat. Mereka sedang digoyahkan oleh para pengajar aliran legalistik yang mempertanyakan otoritas dan pesan Paulus. Maka, ia menanggapinya dengan menyatakan secara tegas bahwa Injil yang ia beritakan bukan hasil ciptaan manusia. Ia menerima Injil melalui penyataan dari Kristus (11-12).
Ia kemudian menceritakan masa lalunya sebagai penganut agama Yudaisme yang sangat taat, dan hal itu membuatnya memiliki sikap untuk menganiaya jemaat (13-14). Namun, Allah yang memilih dan memanggilnya dengan anugerah-Nya, menyatakan Kristus kepadanya agar ia memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (15-16). Ia menegaskan bahwa setelah pertobatannya, ia tidak langsung berkonsultasi dengan siapa pun di Yerusalem (17).
Ia mengatakan dengan jujur bahwa pergaulannya dengan para rasul sangat terbatas (18-20), dan jemaat-jemaat hanya tahu satu hal: "ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya" (23).
Injil Kristus bukan ciptaan manusia, melainkan wahyu ilahi. Hidup Paulus yang diubah secara radikal adalah bukti bahwa kasih karunia Allah dapat mengubah siapa saja, termasuk Paulus yang memiliki masa lalu yang bisa dikatakan memalukan sekalipun. Ini pun berlaku untuk kita, pengikut Kristus. Andai kita memiliki masa lalu yang tidak ideal, itu pun tidak mendiskualifikasi kita untuk dipakai Tuhan.
Apakah Anda merasa kisah hidup Anda seperti tabu atau terlalu rusak bagi Tuhan? Kehidupan Paulus membuktikan bahwa Allah sanggup menebus, memulihkan, dan mengubahkan kita bagi kemuliaan-Nya. Karena itu, bagikanlah kesaksian pribadi Anda sebagai bukti betapa besarnya anugerah Allah bagi yang mau mengikut-Nya.
