
- 2021-11-21 08:45:36
Baca: Lukas 8:4-15
"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah
mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan
mengeluarkan buah dalam ketekunan." Lukas 8:15
Amsal 27:19: "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu."
Itulah sebabnya kita harus menjaga kondisi hati kita dengan segala
kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan (baca Amsal 4:23), dan dari hati timbul segala pikiran jahat (baca Matius 15:19).
Ini menunjukkan bahwa kondisi hati memiliki peranan penting dalam
perjalanan hidup kita. Apa yang terjadi dengan hidup ini sangat
bergantung pada apa yang ada di hati, dan gambaran hidup yang sekarang
sedang kita kita jalani adalah juga cerminan hati kita. Kalau hati kita
bersih, jalan hidup kita juga akan bersih; jika hati kita penuh
sukacita maka kita akan mengerjakan segala sesuatu juga dengan
sukacita. Tetapi apabila hati kita pahit, jalan yang kita tempuh pun
akan diwarnai dengan kepahitan.
Alkitab sering menggambarkan hati manusia sebagai tanah: ada yang
berbatu-batu, tanah di pinggiran jalan yang keras, tanah yang penuh
semak duri, tetapi ada juga tanah yang subur, tanah di mana benih firman
Tuhan dapat bertumbuh dan akan berbuah lebat. Meskipun sama-sama
mendengar firman Tuhan, dampaknya terhadap masing-masing orang berbeda,
sangat bergantung pada kondisi 'tanah' hati mereka. Jika mereka
mendengar firman, tetapi hati keras dan berbatu, firman Tuhan tidak akan
berarti apa-apa dalam hidup mereka.
Hati dikategorikan sebagai tanah yang baik apabila ia dalam keadaan
bersih: tidak ada kebencian, sakit hati, kepahitan, kecewa, dendam,
atau ambisi-ambisi duniawi. Sekalipun kita rajin datang ke ibadah dan
mendengarkan khotbah berkali-kali, tetapi jika hati kita belum beres
dari hal-hal tersebut (benci, sakit hati, pahit, kecewa, dendam, ambisi
dan lain-lain), maka firman Tuhan itu tidak akan berdampak dalam hidup
kita. "Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya?" (Amsal 24:12). Tanah hati seperti ini harus dibajak, dicangkul, dibersihkan dan diratakan. Daud berdoa: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;" (Mazmur 139:23).
Benih firman yang tertanam di tanah hati yang baik pasti tumbuh dan berbuah lebat!
