
- 2026-06-03 10:11:03
Bacaan : 1 Samuel 1
Dalam budaya kolektif, terutama pada zaman kuno, seorang istri yang tidak punya anak sering dipandang rendah. Ketika hal itu terjadi, apa yang sepatutnya sang istri lakukan?
Elkana punya dua orang istri, Hana dan Penina. Setiap tahun ia bersama kedua istri dan anak-anaknya pergi ke Silo untuk menyembah TUHAN. Ia mengasihi Hana, tetapi Hana tidak punya anak. Keadaan ini digunakan Penina untuk menyakiti hati Hana, sehingga Hana menangis. Elkana berusaha menghibur Hana, tetapi Hana masih sedih (1-8).
Di Rumah TUHAN, Hana berdoa sambil menangis supaya TUHAN memberinya anak laki-laki, yang akan ia persembahkan kepada-Nya. Pada saat itulah ia bertemu dengan Imam Eli. Begitu Eli tahu tentang keadaan Hana, ia meneguhkan hati Hana melalui doa berkat (9-18).
TUHAN mendengarkan doa Hana dan membuka kandungannya sehingga ia melahirkan anak laki-laki. Namanya Samuel, artinya "Aku telah meminta dari TUHAN". Sesuai janjinya, Hana menyerahkan anaknya kepada TUHAN di Silo (19-28).
Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa perkataan yang merendahkan seseorang karena keadaan dirinya dapat menjadi perkataan yang begitu menyakitkan. Bagi orang Israel, kemandulan merupakan aib sehingga tak jarang istri yang mandul direndahkan oleh masyarakat. Bagi kita, mungkin kemandulan bukan lagi aib. Namun, ketidakberdayaan bisa juga dalam bentuk lain, seperti kekurangan ekonomi keluarga, kelainan genetik, dan sebagainya. Karena berbagai keadaan yang kita hadapi, orang lain dapat merendahkan dan menyakiti hati kita.
Dalam keadaan seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Ketika kita direndahkan oleh orang-orang di sekitar kita, apalagi oleh orang-orang terdekat kita, wajar bila kita menangis karena Hana pun menangis. Namun, bukan hanya itu yang Hana lakukan.
Belajarlah dari Hana yang datang dan berdoa kepada Tuhan. Berdoalah dengan hati yang terbuka dan tulus. Serahkanlah segala tangisan dan beban Anda kepada-Nya supaya Anda juga mendapat kelegaan (Mat 11:28).
