
- 2020-07-14 10:00:39
Baca: Mazmur 146:1-10
"Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi
Allahku selagi aku ada." Mazmur 146:2
Puji-pujian kepada Tuhan adalah bagian yang sangat vital dalam setiap
peribadatan. Meski demikian jangan sampai kita memuji Tuhan hanya sebagai
syarat dalam beribadah saja. Sebagaimana doa adalah nafas hidup orang
percaya, puji-pujian pun harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan kita sehari-hari. Jika kita menyadari siapa diri kita ini di
hadapan Tuhan dan mengenal dengan benar siapa Tuhan kita, maka tidak ada alasan
bagi kita untuk tidak memuji Tuhan.
Memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena sedang dalam keadaan kuat dan
mampu aadalah hal yang sangat normal. Bagaimana jika kita dalam keadaan
tidak berdaya karena tertindih beban hidup yang berat atau karena
sakit-penyakit, masihkah kita mau memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya?
Mari kita belajar dari Daud, meski sedang terjepit dan kehilangan
kekuatan, "Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku
terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam
dadaku; kekuatanku kering seperti beling,..." (Mazmur 22:15-16),
ia tetap memaksa jiwanya untuk memuji Tuhan. "Aku akan
memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di
tengah-tengah jemaah:" (Mazmur 22:23). Bahkan ketika
sedang terkepung oleh musuh sekali pun Daud tetap bisa menguasai dirinya dan
tidak terpancing emosi, ia tetap mengarahkan pandangannya kepada Tuhan dan
memuji Tuhan, karena percaya jika Tuhan ada di pihaknya, "Aku
tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"
(Mazmur 118:6). Orang bisa berbuat apapun terhadap kita atau merancangkan
hal-hal yang jahat sekalipun terhadap kita, tapi mereka takkan mampu mengubah
dan menggagalkan rencana Tuhan dalam hidup kita.
Karena itu apa pun keadaannya biarlah puji-pujian tetap ada di dalam mulut
kita. Ini menunjukkan kepada kita bahwa salah satu sifat dari puji-pujian
kepada Tuhan adalah sebagai suatu korban, kita mau membayar harga, yaitu
mempersembahkan puji-pujian bagi Tuhan justru saat kita berada dalam kesesakan
dan penderitaan.
"Sebab itu marilah kita, oleh Dia,
senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang
memuliakan nama-Nya." Ibrani 13:15
